Alat Musik Tradisional

Alat Musik Sasando

Sempat di tinggalkan, alat musik sasando sekarang menjadi dikenal di beberapa belahan dunia.


Guratgarut.com – Saat kita mendengar provinsi Nusa Tenggara Timur, apa yang ada dibenak kalian ? Tentunya pasti wisata alam di pulau habitat bagi spesies kadal terbesar di dunia yaitu Pulau Komodo atau danau kawah yang mempunyai tiga warna Danau Kelimutu.

Namun, ada salah satu kebudayaan yang berasal dari provinsi NTT ini yang cukup terkenal bahkan dikenal di berbagai belahan dunia. Kebudayaan tradisional miliki Indonesia ini ialah alat musik sasando alat musik berdawai yang sangat unik.

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas salah satu kesenian tradisional satu ini dimulai dari sejarah, pembuatan, hingga perkembangan alat musik sasando, simak sampai akhir ulasan berikut.

Mengenal Sasando, Alat musik Tradisional Nusa Tenggara Timur

Mengenal Sasando, Alat musik Tradisional Nusa Tenggara Timur
Sumber: wikipedia.org

Sasando merupakan instrumen musik yang dimainkan dengan cara dipetik menggunakan kedua tangan yang berasal dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Sasando berasal dari kata sasandu, yang berasal dari kata sandu atau sanu yang berarti bergetar atau meronta.

Menurut organologi sasando tergolong dalam sitar tabung bambu. Bagian badan utamanya berbentuk tabung panjang yang terbuat dari bambu yang diberi ganjalan-ganjalan melingkar yang berfungsi sebagai tempat membentangkan senar atau dawai yang berbeda-beda agar menghasilkan nada-nada yang berbeda pula saat dipetik.

Sasando sempat menjadi icon dalam uang pecahan lima ribu rupiah pada tahun 1992.

Terdapat wadah yang digunakan sebagai resonator yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibentuk menyerupai kipas.

Dalam masyarakat di Pulau Rote, sasando seringkali dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, lagu daerah, syair dan acara adat atau hiburan lainya.

Namun sekarang sasando dimainkan dalam acara-acara formal seperti penyambutan tamu sampai resepsi pernikahan.

Sejarah dan Perkembangan Alat Musik Sasando

Sejarah dan Perkembangan Alat Musik Sasando
sumber : kompas.id

Alat musik yang mirip dengan gitar, biola, kecapi dan harpa ini sudah ada dan digunakan masyarakat di pulau Rote sejak awal abad ke-7.

Pada awalnya Sasando hanya memiliki 7-10 dawai dan menggunakan bahan-bahan alam untuk bagian dawai/senar nya.

Perkembangan alat musik ini cukup panjang, dimulai dari senar yang menggunakan lidi daun, pintalan daun lontar, senar bambu. Sampai akhirnya menggunakan senar kawat yang dibawa oleh orang Portugis yang datang ke Nusa Tenggara Timur dengan melakukan barter.

Pada abad ke-18 Sasando mengalami perkembangan yang cukup pesat, yang awalnya menggunakan 7-10 senar sasando berkembang menjadi 24 dan 28 senar. Kemudian berkembang lagi menjadi 32 sampai 48 senar seperti yang kita gunakan seperti sekarang.

Karena perkembangan zaman dan teknologi sasando pun mulai dimodifikasi dan mengalami perubahan menjadi sasando elektrik yang dibuat oleh seorang guru IPA/Fisika pada tahun 1960 oleh Arnoldus Edon.

Setelah melakukan banyak sekali eksperimen bunyi yang dihasilkanya pun tidak jauh berbeda dengan suara asli sasando.

Pembuatan Alat Musik Sasando

Pembuatan Alat Musik Sasando
sumber : kumparan.com

Setelah kita mengenal sejarah singkat sasando, mari kita bahas mengenai pembuatan sasando itu sendiri. Sasando terbuat dari kayu, paku penyangga, senar/dawai, daun lontar dan bambu.

Terdapat proses dalam pembuatan alat musik tradisional sasando, diantaranya :

  1. Bambu dipotong sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan yang kemudian dua ujung bambu ditutup menggunakan kayu jati, sehingga menghasilkan rongga di bagian dalam.
  2. Proses pelukisan atau pengukiran pada badan sasando agar terlihat lebih menarik yang disemprotkan pernis pada bagian akhirnya agar awet dan tidak luntur.
  3. Pemasangan penyangga pada kedua ujung sasando yang memutar pada bagian utama tubuh tempat membentangkan senar/dawai. penyangga tersebut dibuat berbeda agar menghasilkan nada-nada yang berbeda.
  4. Pemasangan senar/dawai yang ditancapkan menggunakan kayu penyangga.
  5. Pembentukan daun lontar menjadi bentuk kipas atau setengah lingkaran. Daun tersebut diikat menggunakan lidi daun lontar yang diiris tipis untunk menyatukan lembaran daun lontar. Daun tersebut kemudian di keringkan selama 4 hari agar mengering dan keras.
  6. Setelah kering, daun lontar dan tubuh sasando di gabungkan dan di rangkai.

Macam dan Jenis Alat Musik Sasando

Macam dan Jenis Alat Musik Sasando
kumparan,com

Sebenarnya ada banyak jenis dan macam sasando yang berkembang dan dapat dibedakan dari jumlah dawai yang dimilikinya. Seperti sasando engkel, sasando dobel hingga sasando elektrik.

Namun secara garis besar sasando tradisional atau akustik dibedakan menjadi dua buah macam, yaitu :

1. Sasando Gong

Sasando gong adalah jenis sasando yang memiliki tangga nada pentatonis dan memiliki 7-12 dawai. Sasando gong seringkali disebut sasandu yang disebut sebagai cikal bakal sasando yang lain.

Sasandu gong dapat dimainkan oleh pemula dan juga professional. Biasanya sasando gong hanya dimainkan untuk memainkan lagu-lagu tradisional masyarakat di pulau Rote.

Tempat resonansi sasando gong dapat dibuka dan ditutup, sehingga mudah sekali dibawa kemanapun.

2. Sasando Biola

Sasando biola merupakan sasando gong yang sudah dikembangkan yang awalnya hanya menggunakan 7, 11, 12 dawai sekarang menjadi 30, 32, 36 dan 48 buah dawai dan memiliki tangga nada diatonis.

Karena menggunakan tangga nada diatonis, sasando jenis ini mempunyai kelebihan yaitu dapat memainkan musik yang lebih bervariasi seperti musik atau lagu modern.

Penutup

Sasando adalah alat musik tradisional Nusa Tenggara Timur yang sangat terkenal, bukan hanya di Indonesia, akan tetapi manca negara.

Alat musik sasando ini sudah sepatut kita lestarikan bersama, baik oleh masyarakat melalui pengenalan ataupun pelestarian dari pemerintah.

Dengan hadirnya tulisan yang sederhana ini, semoga menjadi salah satu upaya dalam melestarikan dan mengenalkan alat musik sasando.

You might also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *