Alat Musik Sulawesi Selatan
Alat Musik Tradisional

Alat Musik Sulawesi Selatan

guratgarut.com – Alat musik Sulawesi Selatan mempunyai ragam yang cukup banyak. Hal ini dipengaruhi oleh suku-suku yang menghuninya seperti suku Bugis, Makasar, Toraja, Duri dan suku lainya.

Walaupun beberapa alat musik sudah tidak dimainkan lagi, namun kita harus tetap menjaga dan melestarikanya sebagai warisan budaya yang kaya akan nilai-nilai sejarah. Sehingga alat musik ini tidak hilang dan dapat  diketahui oleh generasi selanjutnya.

Mengenal Alat Musik Tradisional Sulawesi Selatan

Mengenal Alat Musik Sulawesi Selatan
sumber : youtube

Alat musik tradisional Sulawesi Selatan pada umumnya adalah instrumen musik yang kebanyakan dimainkan di acara-acara adat yang disaksikan oleh masyarakat setempat. Namun selain dimainkan di acara adat, alat musik ini dimainkan hanya untuk hiburan semata.

Terdapat beberapa macam jenis alat musik yang termasuk kedalam alat musik berkategori ritmis dan harmonis. Ada berbagai macam alat musik yang berbeda-beda berdasarkan cara memainkannya, seperti dipukul, ditiup sampai digesek.

Jenis Alat Musik Tradisional Sulawesi Selatan

Sedikitnya ada 12 jenis alat musik tradisional khas Sulawesi Selatan yang memiliki karakteristik dan keunikan nya masing-masing, diantaranya :

1. Alosu / Lalosu

Alosu / Lalolsu
sumber picuki

Alosu atau Lalosu terbuat dari bambu, kayu dan anyaman yang berbahan daun kelapa berbentuk kotak-kotak kecil bertangkai. Pada bagian dalam lalosu dimasukan biji yang berfungsi sebagai sumber nada atau bunyi.

Lalosu dilapisi oleh kain berwarna merah dan putih, dan pada asalah satu ujungnya berbentuk seperti kepala ayam.

Lalosu dimainkan dengan cara digoyang-goyangkan seperti namanya yang diambil dari kata lao-lisu yang berarti bolak-balik sambil menari “Tari Ulusu”. Tari ini dilakukan ketika ada upacara adat seperti pelantikan raja, penyambutan tamu, dan acara adat lainya.

2. Ana Baccing

Ana Baccing
sumber : percepat

Alat musik tradisional ana baccing terbuat dari bahan utama besi yang berbentuk seperti anak panah. Ana bacing dimainkan dengan cara dibenturkan dengan ana bacing yang lain.

Alat musik ini digunakan pada pertunjukan tari bugis yang disebut tari bissu. Tarian tersebut digunakan pada acara seperti :

  • Upacara pernikahan
  • Upacara kematian
  • Pelantikan Raja baru
  • Saat terkena wabah penyakit
  • Tanda dimulainya menanam padi

3. Basi-Basi

Basi-Basi
sumber : dictio

Basi-basi adalah salah satu alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara ditiup yang berasal dari suku Bugis. Namun pada masyarakat Makasar seringkali disebut dengan nama klarinet.

Klarinet atau basi-basi dimainkan pada acara adat Sulawesi Selatan seperti pesta rakyat, perkawinan, syukuran dan acara adat lainya.

4. Ganrang Bulo

Ganrang Bulo
sumber : kamerabudaya

Ganrang bulo adalah alat musik sejenis kendang. Namun terdapat perbedaan antara ganrang bulo dengan ganrang dari daerah pulau Jawa.

Alat musik tradisional Sulawesi Selatan ini memiliki ukuran yang lebih kecil tetapi memiliki panjang yang lebih dibandingkan dengan kendang Jawa.

Ganrang bulo memiliki dua bagian sisi yang berfungsi sebagai sumber bunyi. Salah satu sisi memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan sisi lain.

Ganrang bulo dimainkan dengan cara dipukul pada sisi yang lebih besar menggunakan alat pukul dan sisi kecil hanya menggunakan tangan layaknya kendang pada umumnya.

5. Gesok-Gesok / Keso-Keso

Gesok-Gesok / Keso-Keso
sumber : budaya-indonesia

Alat musik ini termasuk pada kategori jenis alat musik yang digesek atau kordofon. Gesok-gesok adalah alat musik sejenis rebab, tetapi memiliki dua buah dawai atau senar.

Gesok-gesok terbuat dari bahan kayu yang dibentuk menyerupai jantung atau daun keladi, kulit hewan dan senar atau dawai.

Alat gesek nya pun terbuat dari bahan kayu dan senar yang memiliki bentuk seperti busur panah.

Alat musik ini dimainkan untuk mengiringi syair-syair sinlirik pada zaman dahulu. Namun pada masa kini gesak-gesok dimainkan dalam lingkung yang lebih kecil seperti dalam satu keluarga dan masyarakat sekitar.

6. Jalappa

Jalapa
sumber : hownesia

Jalapa adalah salah satu instrumen musik yang terdapat pada pengiring tari bissu seperti alat musik ganrang bulo, lalosu, dan genta.

Alat musik ini diberi nama kancing-kancing karena bentuknya yang menyerupai kancing berukuran besar.

Jalapa dimainkan dengan cara dibenturkan dengan jalapa yang lain. Alat musik satu ini terbuat dari bahan logam kuningan yang digunakan pada upacara adat seperti pernikahan, khitanan dan tolak bala.

7. Kacaping

Kacaping
sumber : indonesiaheritage

Kacaping adalah alat musik yang berbentuk menyerupai perahu, karena konon dibuat oleh seorang pelaut. Kecaping berasal dari suku Bugis yang dimainkan dengan cara dipetik.

Kecaping terbuat dari kayu yang diberikan lubang pada bagian tengahnya dan terdapat senar atau dawai yang dibentangkan dari ujung sampai ujung lain dari kayu tersebut. Kecaping dimainkan oleh berbagai kalangan untuk penyambutan tamu dan perkawinan.

8. Pa’pompang

Pa'pompang
sumber : gosulsel

Alat musik satu ini berasal dari tanah Toraja, Sulawesi Selatan dan dimainkan oleh 25-35 orang dari berbagai kalangan muda dan dewasa. Pa’pompang terbuat dari bambu yang berukuran besar dan kecil, dilubangi kemudian di rangkai.

Walaupun Pa’pompang memiliki bentuk seperti angklung, namun alat musik satu ini dimaiankan dengan cara ditiup.

Pa’pompang dimainkan dalam acara khusus saja seperti acara pernikahan dan syukuran. Namun pada masa sekarang pa’pompang dimainkan pada berbagai macam festival.

9. Talindo

Talindo
sumber : netralnews

Talindo adalah alat musik yang cukup unik. Karena bentuknya yang khas dan terbuat dari bahan kayu dan tempurung kelapa. Talindo memiliki satu buah senar atau dawai pada bagian tengahnya.

Talindo pada masyarakat Makasar disebut dengan nama popondi. Alat musik ini dimainkan oleh para petani di sawah ketika melakukan panen.Para remaja suku Bugis juga sering memainkan alat ini untuk sekedar mengisi waktu luang.

10. Puik-Puik / Pui-Pui

Puik-Puik / Pui-Pui
sumber : musikausasien

Puik-puik adalah alat musik sejenis terompet yang terbuat dari bahan kayu dan besi. Puik-puik memiliki bentuk mengerucut, memanjang dan memiliki lubang-lubang sebagai pengatur nada. Pada bagian pangkal yang terbuat dari logam, diletakan potongan dan lontar sebagai penghasil suara ketika ditiup.

Untuk memainkan alat musik satu ini dibutuhkan keahlian khusus. Jika kita meniup nya secara asal akan menghasilkan suara yang aneh dan bahkan tidak mengeluarkan suara sama sekali.

11. Terbang Rebana

Terbang Rebana
sumber : bukalapak

Terbang rebana merupakan alat musik yang termasuk dalam kategori membranofon yang berarti nada yang dihasilkan berasal dari selaput yang bergetar. Alat musik ini terbuat dari bahan kayu pipih yang dilubangi pada bagian tenganya dan dilapisi oleh selaput yang terbuat dari kulit hewan.

Terbang Rebana dimainkan dengan cara dipukul oleh tangah langsung. Pada umumnya dimainkan pada acara-acara adat yang bersifat keagamaan.

12. Suling Lembang

Suling Lembang
sumber : youtube

Suling memang identik dengan pulau jawa, namun Sulawesi Selatan juga mempunyai salah satu jenis suling yang berasal dari daerah Toraja tepatnya. Terdapat perbedaan yang mencolok, yaitu pada ukuran yang lebih besar dengan ukuran panjang dari 40-100 cm dan berdiamter 2cm.

Suling lembang terbuat dari bahan bambu dan memiliki bentuk silinder. Alat musik tiup satu ini memiliki enam lubang yang digunakan sebagai pengatur nada atau bunyi.

Suling ini dimainkan dengan cara berkelompok yang disebut suling deata yang biasa digunakan sebagai pengiring tari khas Toraja yang dikenal dengan nama tarian Ma’marakka.

Penutup

NoNama Alat Musik Sunda
1Alosu / Lalosu
2Ana Baccing
3Basi-Basi
4Ganrang Bulo
5Gesok-Gesok / Keso-Keso
6Jalappa
7Kacaping
8Pa’pompang
9Talindo
10Puik-Puik / Pui-Pui
11Terbang Rebana
12Suling Lembang

Nah kita sudah mengetahui dan membahas satu per satu alat musik tradisional yang berasal dari provinsi Sulawesi Selatan.

Kebudayaan Indonesia satu ini lambat laun sudah mulai ditinggalkan karena tergantikan oleh alat musik modern yang berasal dari luar.

Semoga tulisan ini menjadi salah satu cara untuk mengingatkan dan mengajak masyarakat luas bukan hanya Indonesia tetapi seluruh dunia untuk mengenal kebudayaan Nusantara ini.

You might also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *