rumah adat banten
Rumah Adat

Rumah Adat Banten

Guratgarut.com – Banten adalah sebuah wilayah yang terletak di bagian barat Pulau Jawa. Sebelum menjadi sebuah Provinsi, dahulu Banten merupakan bagian dari daerah Jawa Barat. Meskipun demikian jangan heran apabila Banten dan Jawa Barat memiliki budaya yang berbeda, termasuk soal rumah adat.

Berbicara mengenai rumah adat Banten, tentu banyak hal yang dapat kita bahas, mulai dari ciri khas, arsitektur, hingga filosofi rumah adatnya.

Rumah adat banten sendiri dikenal dengan nama rumah adat sulah nyada (kasepuhan). Hingga saat ini rumah adat banten masih terjaga dan digunakan oleh Suku Baduy.

Oh iya, semenjak jadi Prorivinsi, Banten memiliki 4 wilayah kota/kabupaten, antara lain;

  1. Kabupaten Lebak
  2. Pandeglang
  3. Serang
  4. TangerangTitle Page Separator Site title

Banten memang tidak memiliki wilayah yang luas, tapi tentu menarik untuk kita jelajahi.

Mengenal Rumah Adat Banten Khas Suku Baduy

rumah adat banten
Sumber: sinarbanten.com
Nama Rumah Adat BantenRumah Adat Sulah Nyanda
Bagian / Ruangan Rumah
  • Seroso
  • Tepas
  • Ipah
  • Leuit
Bahan yang Digunakan
  • Batu
  • Kayu
  • Bambu
  • Injuk

Rumah adat ialah sebuah bangunan tempat tinggal masyarakat, dimana rumah tersebut masih menjaga tradisi leluhur, mulai dari bentuk hingga pembagian ruangan.

Tidaklah mudah untuk menemukan rumah adat di jaman modern ini, seiring perkembangan jaman, keberadaan rumah adat semakin susah untuk ditemukan.

Banten salah satu wilayah yang beruntung, mengingat rumah tradisional masih tetap terjaga utuh hingga saat ini.

Kita dapat menemukan rumah adat Banten di wilayah utama Suku Baduy, Provinsi Banten.

Rumah adat banten memiliki sebutan lain, seperti rumah adat baduy atau rumah sulah nyanda.

Seperti halnya dengan rumah adat lain, misal rumah adat Sunda ataupun Jawa, rumah sulah nyanda memiliki keunikan tersendiri.

Beberapa keunikan dari rumah adat sulah nyanda akan kita bahas pada bagian berikutnya.

Sekilas Mengenai Suku Baduy

suku baduy
Sumber: romadecade.com

Rumah adat Banten atau sulah nyanda tidak dapat dilepaskan dengan Suku Baduy, mengingat Baduy adalah suku asli Banten.

Suku Baduy atau mereka menyebutnya sebagai orang kanekes adalah kelompok etnis masyarakat adat suku Banten di wilayah Kabupaten Lebak, Banten.

Berdasarkan data sensus penduduk yang dilakukan di tahun 2010, setidaknya populasi Suku Baduy adalah 26.000 orang.

Hingga saat ini mereka masih menjaga budaya dan adat istiadat, bahakan dapat kita katakan Suku Baduy mengisolasi diri dari budaya luar.

Pembagian Ruangan Rumah Adat Banten

bagian rumah adat banten
Sumber: celtictown.com

Seperti halnya dengan rumah adat Indonesia pada umumnya, rumah adat banten atau sulah nyanda terbagi ke dalam beberapa bagian, diantaranya.

  1. Seroso
  2. Tepas
  3. Ipah
  4. Leuit

Setiap ruangan atau bagian memiliki tujuan dan fungsi masing-masing, berikut pembahasan lengkapnya.

#1. Seroso

Seroso merupakan sebutan yang diperuntukan untuk bagian depan bagian rumah, dalam kata lain beranda atau teras.

Area ini memiliki kegunaan untuk menerima tamu, bersantai bersama keluarga atau hanya sekedar menikmati hari.

Bagian ini juga tidak jarang digunakan untuk kegitan lain, seperti bermain anak, menenun untuk kaum wanita serta kegiatan lainnya.

#2. Tepas

Tepas merupakan area yang digunakan untuk bersantai bersama keluarga dan tempat tidur pada malam hari, lokasinya berada di dalam rumah.

Pada waktu teretentu, biasa digunakan juga sebagai tempat kegiatan atau acara, seperti syukuran dan pertemuan.

#3. Ipah

Bagian rumah adat Banten yang ke tiga ialah ipah, letaknya berada di bagian belakang rumah dengan kegunaan sebagai tempat menyimpan bahan makanan dan memasak.

Meskipun memiliki fungsi sama halnya dengan dapur pada rumah modern, faktanya ipah tidak jarang dijadikan sebagai tempat tidur oleh anggota keluarga.

Tentu hal tersebut sangat unik sekali, yang artinya ruangan atau bagian dari rumah adat banten yang disebut dengan ipah ini multifungsi.

#4. Leuit

Leuit merupakan bagian yang tidak menyatu dengan rumah, tempat ini digunakan masyarakat Baduy sebagai lumbung padi dan menyimpan berbagai masam hasil bumi.

Leuit atau lumbung padi ini memiliki lokasi yang jauh dari rumah, dengan pertimbangan apabila sewaktu-waktu terjadi musibah atau bencana dengan rumah, mereka masih memiliki persediaan makanan.

Tempat untuk menyimpanan padi dan hasil bumi lainnya ini dilakukan dengan aturan khusus sesuai adat yang berlaku, dilindungi oleh mantara-mantra yang dibacakan oleh ketua adat.

Selain itu pembangunannya pun tidak bisa dilakukan kapan saja, harus sesuai dengan hitungan dari pu’un atau ketua adat.

Masyarakat Baduy percaya, apabila pembangunan tidak sesuai dengan aturan adat maka akan terjadi bencana yang menerpa.

Pembangunan rumah sulah nyanda memiliki aturan khusus, hal ini berlaku untuk setiap ruangan.

Arsitektur Rumah Sulah Nyada

arsitektur rumah sulah nyamda
Sumber: inacraftnews.com

Rumah sulah nyanda ini memiliki bentuk dan penampilan yang agak mirip dengan rumah adat Jawa Barat, yaitu rumah Panggung.

Seperti yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, rumah ini memiliki empat bagian dengan fungsi dan kegunaan yang berbeda.

Sama halnya dengan kebanyakan rumah adat lainnya di Indonesia, sulah nyanda memiliki konsep rumah ramah lingkungan, artinya tidak merusak alam.

Pondasi rumah biasanya dibangun dengan menyesuaikan kontur dan bentuk tanah, apabila tanah miring, maka pondasipun dibuat sama.

Tiang penyangga terbuat dari kayu yang sangat kuat, sebab memiliki fungsi untuk menopang atau menyangga beban rumah.

Dinding rumah dterbuat dari anyaman bambu, atau yang dikenal dengan nama bilik. Selain ramah lingkungan, anyaman bambu memiliki sirkulasi yang sangat baik untuk kenyamanan rumah.

Lanta rumah pada umumnya menggunakan papan kayu ataupun bambu, sedangkan untuk bagian atap rumah menggunakan injuk sebagai penutup dengan kerangka bambu.

Masyarakat Baduy hidup benar benar sesua naluri mereka, berdasarkan informasi, orang -orang baduy tidak pernah mengunci rumah saat bepergian.

Barangkali diantara kalian ada yang bertanya-tanya, apakah rumah adat Banten ini memiliki jendela? Jawaban tidak. Rumah ini secara keseluruhan dindingnya menggunakan anyaman bambu.

Lebih jelasnya mungkin kalian dapat berkunjung ke Baduy, tidak sedikit orang atau kelompok yang melakukan kunjungan kesana, entah itu untuk belajar ataupun hanya sekedar liburan.

Ciri Khas Rumah Adat Sulah Nyanda

Pada umumnya setiap rumah adat memiliki kekhasan atau keunikan antara satu dengan yang lainnya, entah itu dari segi arsitektur, material yang digunakan ataupun fungsi.

Hal ini berlaku juga untuk rumah adat Sulah Nyanda di Banten, memiliki keunikan dari segi bentuk, ruangan dan bahan yang digunakan.

Apa saja keunikan Tersebut? berikut daftarnya.

  1. Bagian bawah rumah tidak menyentuh tanah, sebab menggunakan model rumah panggung.
  2. Pondasi menggunakan batu sebagai penyangga masing-masing tiang.
  3. Bahan atau material rumah didominasi kayu dan bambu.
  4. Atap rumah memiliki 2 bagian, kiri dan kanan. Kiri sebagai bagian depan yang memiliki atap lebih panjang, sedangkan kanan bagian belakang rumah.
  5. Seluruh rumah adat Baduy di Banten ini tidaklah memiliki jendela.
  6. Bagian atap rumah menggunakan daun injuk sebagai penutup.
  7. Bagian lantai menggunakan bambu yang dibelah.

Perlu kalian ketahui juga, bahwa Suku Baduy terbagi menjadi 2 bagian, orang dalam dan orang luar.

Orang dalam adalah sebutan untuk masyarakat Baduy dalam, mereka benar-benar tertutup dari kehidupan luar.

Sedangkan orang luar adalah sebutan untuk Baduy luar, merka tidak tertutup dengan perkembangan budaya luar.

Baik Baduy dalam ataupun luar memiliki rumah adat yang sama, tidak memiliki perbedaan mencolok.

Secara garis besar kita dapat simpulkan rumah Suku Baduy ini menggunakan material bambu, kayu, batu dan injuk.

Filosofi Rumah Sulah Nyanda

Rumah adat Banten bukan hanya tempat untuk berteduh saja, akan tetapi memiliki filosofi yang mendalam.

Dimana masyarakat Baduy sanagat memperhatikan kelestarian alam, hal ini terlihat dari bahan yang digunakan dalam pembuatan rumah.

Masyarakat Baduy menganggap bahwa rumah melambangkan kepribadian seorang, sehingga dalam pembuatannya pun tidak dapat sembarangan, harus mengikuti aturan adat yang berlaku.

Rumah yang dibangun haruslah selaras dengan alam, jangan sampai mengganggu ataupun merusak alam.

Karena sejatinya manusia bagian dari alam, hidup dari alam. Hal inilah yang benar-benar masyarakat baduy sadari.

Rumah adat dari Banten ini hingga sekarang masih lestari, sebab terdapat mereka (Suku Baduy) yang merawat dan mempertahankan keberadaannya melalu nilai adat istiada yang dipegangnya.

Sebagai generasi muda, kita wajib melestarikan budaya dan keragaman yang ada di Indonesia, salah satunya dengan peduli dan menyadari keberadaannya.

Lebih jauhnya kita dapat mempelajari dan malakukan penelitian terkait hal tersebut.

Semoga tulisan ini menjadi penyemangat bagi kita untuk mencintai budaya tanah air. Jangan sampai kita melupakan budaya budaya yang ada di negeri ini.

You might also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *