Alat Musik Tradisional

Alat Musik Papua

guratgarut.com – Provinsi Papua yang terkenal dengan rumah honai, tidak disangka mempunyai kebudayaan yang jarang sekali diketahui oleh masyarakat banyak. Salah satunya ialah alat musik Papua yang mempunyai ragam atau jenis yang cukup banyak.

Salah satu kebudayaan ini jarang sekali terekspos dan tidak banyak diketahui. Terdapat mitos-mitos yang dipercayai oleh masyarakat Papua tentang alat musik tradisional ini yang setiap jenis nya berbeda-beda.

Penasaran kan apa saja keunikan, jenis, karakteristik, cara memainkan, dan mitos yang berada pada instrumen musik masyarakat Papua. Simak ulasan berikut untuk lebih jelasnya.

11 Alat Musik Tradisional Papua

alat musik tradisional papua
Sumber: twitter.cm

Pada umumnya masyarakat Papua masih menggunakan alat musik sebagai pengiring bagi suatu acara atau peristiwa yang spesial pada kehidupan mereka selain untuk sarana hiburan.

Setidaknya ada 11 alat musik tradisional yang terdapat di daerah Papua. Diantaranya :

1. Pikon

pikon
Sumber: kamerabudaya.com

Pikon adalah alat musik yang berasal dari kata pikonane yang berarti bunyi pada bahasa Baliem. Pikon pada umumnya hanya digunakan atau dimainkan oleh kaum laki-laki, khususnya pada daerah pedalaman suku Dani.

Pikon mempunyai bunyi yang sedikit mengganggu jika tidak terbiasa mendengarkan nya (sumbang).

Pikon digunakan pada waktu senggang atau sekedar mengisi waktu atau sarana hiburan para kaum laki-laki setelah melakukan berburu atau bekerja seharian dan dilakukan secara bersama-sama di rumah adat honai.

2. Triton

triton
Sumber: http://parisima1siddiqui.blogspot.com/

Triton dimainkan dengan cara ditiup langsung oleh mulut dan ditemukan di daerah pesisir pantai Papua.

Triton pada zaman dahulu digunakan sebagai alat untuk sarana komunikasi dan memanggil bantuan. Namun pada masa sekarang triton digunakan hanya untuk sarana hiburan semata.

3. Yi

yi alat musk papua
Sumber: hownesia.com

Yi adalah instrumen musik yang memiliki bentuk seperti suling yang terbuat dari kayu dan bambu yang memiliki warna coklat gelap. Yi digunakan sebagai pengiring tarian adat dan suara yang dihasilkan nya pun cukup unik.

Yi adalah alat musik tradisional yang berasal dari daerah Papua Barat.

Namun sangat disayangkan Yi pada masa sekarang sangat susah sekali ditemukan dan terbilang langka. Walaupun anda mencari di perpustakaan digital pun informasi dan asal-usul Yi sangat susah ditemukan.

4. Kecapi Mulut

kecapi mulut
Sumber: keluyuran.com

Alat musik dari Papua satu ini begitu unik, terbuat dari bahan bambu wulu. Untuk ukurannyapun tidak terlalu besar dan terlihat  sangat sederhana. Kendati demikian kecapi mulut memiliki teknik dalam memainkannya.

Beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam memainkan kecapi mulut di antaranya sebagai berikut;

  1. Jepitlah alat musik ini di antara bibir.
  2. Kemudian tiup sambil menarik talinya.
  3. Mainkan sesuai dengan irama.

Menurut beberapa informasi, kecapi mulut berasal dari lembah baliem, Papua. Dimana yang meninggali daerah tersebut adalah Suku Dani.

Apabila kalian tertarik ingin melihat dan mendengar secara langsung alat musik tradisional Papua, kalian bisa menyambangi Musieum Loka Budaya di Universitas Cendrawasih.

5. Fuu

fuu
Sumber: indonesiakaya.com

Fuu adalah alat musik tiup yang terbuat dari bahan bambu dan kayu. Alat ini digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil penduduk dan juga digunakan sebagai pengiring tari-tarian tradisional suku Asmat.

Fuu memiliki bentuk perpaduan antara bentuk suling dan tabung, karena memang bentuknya yang gempal dan terdapat lubang di ujung alat ini. Fuu seringkali dimainkan dengan alat musik Papua yang lain seperti tifa atau kelambut.

6. Tifa

tifa
Sumber: romadecade.com

Tifa adalah alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara dipukul, alat musik satu ini sedikit mirip dengan gendang dan alat musik yang digunakan dalam marawis.

Pembuatan tifa sendiri menggunakan kayu besar yang diambil isinya (dikosongkan), kemudian selanjutnya diberika kulit rusa pada bagian sisi. Kulit rusa yang digunakan adalah kulit rusa yang sebelumnya telah dikeringkan.

Kulit rusa sendiri memiliki peranan yang sangat penting, yaitu sebagai penghasil suara yang dipukul.

Kulit rusa sendiri bukan satu satunya pilihan yang digunakan oleh masyarakat Papua untuk membuat tifa, pada kenyataannya banyak kulit hewan lain yang digunakan, seperti kulit babi ataupun kulit kambing.

Hampir semua alat musik tradisional yang ada di bumi cenrawasih memiliki cerita mitos atau legenda, termasuk tifa ini yang menceritakan “Biwar sang penakluk naga”.

Selain itu, tifa ternyata memiliki ragam jenis, diantaranya;

  • Tifa Jekir
  • Tifa Dasar
  • Tifa Potong
  • Tifa Jekir Potong
  • Tifa Bas

Selain digunakan untuk mengiringi upacara adat, tifa digunakan juga sebagai pengiring lagu, dansa, api unggun dan lain sebagainya.

Namun apabila kita merujuk pada sejarah tifa, dahulu digunakan masyarakat Papua sebagai pengiring dalam peperangan (penyemangat).

7. Paar & Kee

Paar & Kee
Sumber: budaya-indonesia.org

Paar dan kee adalah dua alat musik yang saling melengkapi, dapat kita analogikan seperti halnya surat dengan prangko, atau laki laki dan perempuan.

Paar sendiri merupakan alat musik yang terbuat dari labu, sedangkan kee terbuat dari burung kasuari.

Selain sebagai alat musik, paar dan kee biasa juga digunakan sebagai penutup kemaluan laku-laki.

Lalu bagaimana alat musik ini dimainkan?

Jika kita perhatikan, sekilas alat musik ini memang tampak aneh, sebab lebih menyerupai kalung dibandingkan dengan alat musik.

Usut punya usut ternyata memainkan pare dan kee dengan cara digunakan oleh penari, dilingkarkan dipinggang mereka. Ketika para penari bergoyang, paar dan kee akan menimbulkan alunan suara.

Bagaimana unik bukan alat musik satu ini?

Perlu kalian ketahui juga, alat musik paar dan kee ini berasal dari Suku Waris yang berada di Kabupaten Kerom.

8. Krombi

Krombi
Sumber: dictio.id

Krombi atau disebut juga kerombi merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari bambu. Alat musik ini pada umumnya digunakan dalam perayaan upacara adat, salah satunya dalah pesta adat.

Cara memainkan krombi yaitu dengan cara dipukul menggunakan kayu kecil, sehingga mengeluarkan suara yang begitu khas.

Selain dimaikan sendiri, krombi dapat juga dipadukan atau dikolabrasikan dengan beberapa alat musik lain, seperti;

  • Piko
  • Nailavos
  • Fuakuika
  • Karapra
  • Dll

Tidak jarang juga dalam beberapa kesempatan, krombi dimainkan dengan alat musik tradisional Papua Nugini.

Saat ini kita dapat menemukan krombi di daerah Kampung Seremuk, Sorong Selatan, Provinsi Papua.

9. Butshake

Butshake
Sumber: romadecade.org

Buthshake adalah alat musik tradisional yang sangat unik, memadukan antara babmbu dan bauh kenari.

Jika dimainkan alat musik ini akan menghasilkan suara mirip dengan gemercik. Untuk memainkannya sendiri yaitu dengan cara dikocok ataupun diayunkan menggunakan tangan.

Pada umumnya alat musik buthshake ini digunakan untuk mengiringi tarian tradisonal, atau upacara-upacara tertentu.

Alat musik satu ini memiliki sedikit kemiripan dengan alat musik modern, yaitu marakas. Pada dasarnya suara yang dihasilkan oleh bitshake merupakan hasil tabrakan antara biji kenari.

Butshake diperkirakan berasal dari daerah Muyu Kabupaten Merauke, hingga saat ini masyarakat setempat masih menggunakannya.

10. Atowo

Atowo
Sumber: bssd.city

Atowo merupakan alat musik tradisional yang sudah sangat jarang, bahkan cenrung sulit untuk menemukan alat musik yang satu ini.

Hampir semua suku di papua mengenal alat musik tradisional Papua satu ini, memiliki bentuk bulat lonjong dan dimensi yang tidak terlalu besar menjadikannya sebagai alat musik yang relatif ringan.

Atowo dimaikan dengan cara dipukul menggunakan satu tangan, sedangkan satu tangan lainnya memegang badan atowo.

Alat musik tradisional ini memliki irama dan suara yang khas, sehingga tidak jarang masyarakat setempat menjadikan atowo sebagai hiburan.

11. Amyen

amyen
Sumber: keluyuran.com

Amyen adalah alat musik tradisional dengan jenis tiup, alat musik ini akan menghasilkan bunyi khas ketika ditiup.

Sekilas bentuknya memiliki kemiripan dengan seruling, hanya saja terlihat lebih gemuk, dimana pada ujung yang ditiup lebih kecil dibandingkan dengan ujung lainnya.

Amyen digunakan oleh masyarakat setempat sebagai pengiring upacara atau tarian-tarian tradisonal.

Sedangkan padajaman dahulu, amyen digunakan untuk memberikan tanda bahaya kepada penduduk.

Berdasarkan bebrapa keterangan, amyen ini berasal dari Suku Weeb, Kabupaten Keerom, Papua.

Mitos Alat Musik Papua

alat musik tradisional papua
Sumber: jakarta-tourism.go.id

Dalam kehidupan masyarakat Papua, alat musik tidak digunakan sebagai untuk hiburan, tetapi terdapat latar belakang sejarah yang istimewa dan melekat pada hati masyarakat Papua.

Meskipun ada banyak alat musik modern yang merajai pasar bagi generasi muda kita yang semakin hari semakin melupakan kebudayaan nya.

Terdapat mitos-mitos pada beberapa alat musik Papua yang masih dipercayai oleh masyarakat sekitar.

1. Mitos Dua Orang Saudara

Mitos dua oarang saudara adalah mitos untuk alat musik tifa, dimana mitos ini masih diercayai oleh orang pedalaman.

pada masa lalu hiduplah dua orang saudara di daerah Biak, yang bernama Fraimun dan Sarenbeyar.

Ke dua nama ini memiliki arti yang saling berdekatan satu sama lainnya, Fraimun memiliki arti berarti alat erang yang gagangnya bisa membunuh, kemudian Seren memiliki arti busur, dan beyer tali busur.

Pada suatu ketika ke dua saudara ini memutuskan untuk pergi meninggalkan desa mereka, dan setelah itu menemukan desa baru, yaitu Wampemyer dan menetap di sana.

Suatu malam mereka berdua pergi ke luar untuk berburu, dan pada malam itu mereka menemukan pohon opsur.

Tidak lama setelah itu, tepat keesokan harinya mereka berdua memutuskan untuk menebang pohon opsur tersebut, kemudian dilubangi dan ditambahkan kulit ular pada bagian sisinya.

2. Mitos Orang Pegunungan Tengah

Mitos ini berasal dari alat musik pikon, dimana masyarakat Papua percaya dahulu ada seorang bapa membunuh panglima perang, yang merupakan temannya sendiri.

Akibat dari pembunuhan tersebut, pada kahirnya bapa tersebut diusir oleh saudaranya. Kemudian ia lari ke hutan, di sana ia memutuskan untuk mencoba berkomunikasi dengan hewan, namun sayangnya tidak ada satupun hewan yang bisa berkomunikasi dengannya.

Si bapak dengan inisiatifnya membuat alat musi dari sebuah tongkat yang dibawanya. Tidak disangka alat musik ini dapat menghasilkan suara nyaring indah yang dapat menirukan berbagai suara hewan.

3. Mitos Kulit Kerang Teluk Triton

Triton adalah alat musik tradisional yang terbuat dari kerang, Triton sendiri adalah sebuah daerah di Papua dengan keindahan alam yang luar biasa, memiliki emandangan mempesona dan biota laut yang sangat beragam.

Masyarakat setempat dahulu membuat triton sebagai alat komunikasi, namun saat ini digunakan sebagai lat iburan.

Penutup

Alat musik Papua adalah salah satu kebudayaan yang harus kita lestarikan dan promosikan kepada masyarakat luas. Agar kebudayaan ini tidak hilang termakan oleh waktu.

Tulisan ini dibuat untuk memberi informasi pada masyarakat luas khusunya generasi muda untuk mengetahui kebudayaan nusantara yang semakin hari semakin hilang dan langka.

You might also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *